Kamis, 25 Juli 2013
Sejauh mana cinta kepada Nabi SAW
Sejauh Mana Cinta Kita
Itulah sebabnya, bagi yang mengharapkan mendapat anugerah besar dapat mimpi dan bertemu Nabi SAW, penting bagi kita untuk merenungi kisah berikut, sebagai muhasabah sejauh mana kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan seberapa besar pula tekad dan kesungguhan kita dalam menjalankan sunnah-sunnah beliau SAW.
Pada suatu ketika seorang murid berjalan menuju rumah gurunya. Tampak di wajahnya ia sedang menginginkan sesuatu. Ketika sampai di rumah sang guru, dia duduk bersimpuh dengan sangat beradab di hadapan sang guru, yang tak bergerak sedikit pun. Kemudian dengan wajah dan suara yang berwibawa, bertanyalah sang guru kepada muridnya, “Apakah yang membuatmu datang kepadaku di tengah malam begini?”
“Wahai Guru, sudah lama aku ingin melihat nabiku SAW walau hanya lewat mimpi, tetapi keinginanku belum terkabul juga,” jawab sang murid dengan nada sungguh-sungguh.
“Oh… itu rupanya yang kau inginkan. Tunggu sebentar.”
Sang guru mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya. “Ini…, bacalah setiap hari sebanyak seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan nabimu.”
Pulanglah murid membawa catatan dari sang guru, dengan penuh harapan ia akan bertemu dengan Rasulullah SAW. Tetapi setelah beberapa minggu kembalilah murid itu ke rumah gurunya, memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak berpengaruh apa-apa.
Kemudian sang guru memberikan bacaan baru untuk dicobanya lagi. Sayangnya, beberapa minggu setelah itu muridnya kembali lagi memberitahukan kejadian yang sama. Setelah berdiam beberapa saat, berkatalah sang guru, “Nanti malam engkau datang ke rumahku, kuundang makan malam.” Sang murid heran. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Ingin bertemu Nabi, tetapi kok diundang makan malam?” Sebagai murid yang taat, ia memenuhi undangan makan malam sang guru. Datanglah ia ke rumah gurunya untuk menikmati hidangan malamnya.
Tenyata sang guru hanya menghidangkan ikan asin dan segera memerintahkan muridnya untuk menghabiskannya. “Makan, makanlah semua, dan jangan biarkan tersisa sedikit pun.” Sang murid pun menghabiskan seluruh ikan asin yang ada. Setelah itu ia merasa kehausan, karena memang ikan asin membuat orang haus. Tetapi ketika ingin meneguk air yang ada di depan matanya, sang guru melarangnya. “Kau tidak boleh meminum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau akan tidur di rumahku!” kata sang guru. Dengan penuh keheranan, ia menuruti perintah sang guru. Ketika malam semakin larut, sang murid merasa susah tertidur, karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga akhirnya tertidur juga karena kelelahan.
Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu gurunya membawakan satu ember air dingin lalu mengguyurkan ke badannya. Lalu terjagalah ia karena mimpi itu, seakan-akan benar-benar terjadi pada dirinya. Kemudian ia mendapati gurunya telah berdiri di hadapannya dan berkata, “Apa yang kau impikan?” “Guru, aku tidak bermimpi tentang Nabi SAW. Aku bermimpi, guru membawa air dingin lalu mengguyurkan ke badanku.” Tersenyumlah sang guru karena jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata, “Jika cintamu kepada Rasulullah SAW seperti cintamu kepada air dingin itu, engkau akan bermimpi bertemu Rasulullah SAW.” Menangislah si murid, ia menyadari bahwa di dalam dirinya belum ada rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi SAW. Ia menyadari bahwa selama itu ia masih sering meninggalkan sunnah-sunnahnya, bahkan ia pun merasa masih sering menyakiti hati umat Rasulullah SAW.
Sumber : majalah-alkisah.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar