Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Senin, 29 Juli 2013

Kisah Mengharukan tentang Ibu dan Anak – Kisah Ibu Buta Yang Memalukanku

 – Kisah Sedih Mengharukan ini DB kutip dari sumber yang tercantum di akhir postingan ini. Dalam kisah ibu dan anak ini benar-benar sangat mengharukan sekali, dan jika Anda membaca sampai akhir cerita, pasti Anda akan merasa terharu dan sedih banget bahkan Anda sampai menangis. Bagaimana tidak…??? Seorang ibu yang tulus mencintai anaknya, tapi lantaran mata ibunya yang satu buta, membuat anaknya justru tidak menyukainya. Dan yang lebih mengharukan lagi, si Anak justru merasa malu karena memiliki ibu yang buta. Sampai suatu ketika, Anak ini menjadi sukses dengan kehidupan yang mewah, dan tidak ingat sama ibunya, tidak pernah merindukan ibu kandungnya. Ia Menjadi Durhaka. Tapi ibunya tidak mengutuk dia menjadi batu seperti halnya dalam kisah si malin kundang. 
Pesan Sponsor
Lantas, bagaimanakah kisah selanjutnya….??? OK. Langsung saja Anda simak, Kisah Mengharukan tentang Ibu dan Anak “Ibu Buta Yang Memalukanku” berikut ini. Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benarAku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu mnghalangi kemajuanku.Di Selolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis dan sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah.Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke Sigapore. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”“OH…”Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. “Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi. karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni tersebut.Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu salah satunya adalah mataku yang selalu membuatmu malu.Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini untukmu.Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercintaBak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri….Mudah-mudahan anak-anak kita kelak tidak seperti tokoh yang ada dalam kisah mengharukan ibu dan anak diatas. Sejelek-jeleknya orang tua kita, maka kita wajib untuk mencintainya, menyayanginya, menghormatinya. sumber: Ibu dan Balita

Khutbah ‘Idul Fitri 1432 H : Silaturahmi, Esensi Ajaran Islam


 
oleh KH Jalaluddin Rakhmat

Khutbah Pertama:
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
بسم الله كلمة المعتصمين ومقالة المتحرزين ونعوذ بالله تعالي من جور الجائرين و كيد الحاسدين وبغي الظالمين ونحمده فوق حمد الحامدين
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،الملك ألحق المبين و أشهد أن محمد عبده ورسوله أرسله الله تعالي رحمة للعالمين
والصلاة والسلام على الحبيب المحبوب سيد الأنبياء والمرسلين
وعلى آله الطيبين الطاهرين، و أصحابه الميامين المنتجبين
يا أيها الناس اتقو الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
قال الله تعالي في القران الكريم:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Hadirin dan hadirat, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat,
Baru saja kita rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang Mahakasih Mahasayang. Baru saja kita mengakhiri salat kita dengan menyebarkan salam sejahtera kepada semua makhluk di sekitar kita. Sejak tadi malam sampai pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir kita. Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd!

Jauh dari kedalaman hati kita yang paling bening, terbersit rasa syukur yang tidak terhingga. Rasa syukur yang mengisi setiap pembuluh darah kita, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori kulit kita, urat-urat syaraf kita, jaringan-jaringan daging kita, butir-butir darah kita, dan sampai ke dalam tulang sumsum kita. Seperti tetes-tetes embun di pagi hari, air mata kita perlahan-lahan menggenangi pipi kita. Air mata terima kasih kita kepada Dia Yang Mahasayang. Air mata kepuasan karena kita bisa berhari-raya lagi. Air mata kebahagiaan karena kita mendapat peluang untuk menyelesaikan puasa dan salat malam kita di bulan Ramadhan.

Dan inilah kita sekarang: Para aidin dan aidat, faizin dan faizat! Orang-orang yang berhari raya! Orang-orang yang merayakan kemenangan! Kenanglah kesibukan kita di bulan Ramadhan: Menahan lapar dan haus, mengendalikan hawa nafsu, membaca Al-Quran, menghadiri tadarusan, melakukan salat malam atau berbagi makanan kepada fuqara dan masakin. Kenanglah malam-malam qadar ketika kita melantunkan doa-doa kita dalam kesepian atau dalam kerumunan, di rumah sendiri atau di rumah Tuhan.

Kenanglah sabda Nabi saw di tengah-tengah sahabatnya, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu. “Pada malam Qadar Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke dunia bersama rombongan para malaikat…Ketika fajar terbit, Jibril berseru: Wahai para malaikat, kembalilah, kembalilah. Para malaikat pun menyahut: Ya Jibril, apa yang telah dilakukan Allah dalam memenuhi hajat-hajat kaum mukmin umat Muhammad? Jibril berkata: Allah swt telah memenuhi keperluan mereka – membahagiakan dan mengampuni mereka semua kecuali empat orang! Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, man hum? Siapakah mereka yang tidak diterima ibadatnya, yang ditolak doanya, yang tidak diampuni dosa-dosanya?

Dengarkan Nabi saw bersabda: Semua orang dipenuhi keinginannya kecuali empat orang:
رجل مدمن خمر، وعاق لوالديه، وقاطع رحم ومشاحن
orang yang terus menerus minum khamar, orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang memutuskan silaturahmi, dan orang yang sedang bermusuhan (Al-Baihaqi, Syu’b al-Iman 3:336 hadis 3695; Rawdhat al-Wa’izhin 380, dari Imam Ali a.s).

Hadirin dan hadirat, Faizin dan Faizat:

Kita tahu, minum khamar adalah dosa besar. Alhamdulillah, kita semua berhasil menghindarinya. Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa seperti minum khamar, durhaka pada orang tua, memutuskan silaturahmi, dan meneruskan permusuhan adalah dosa-dosa besar. Karena dosa-dosa besar itu, pintu-pintu langit ditutupkan, ibadah-ibadah dicampakkan, doa-doa dilemparkan, dan permohonan ampunan ditolakkan.

Marilah kita kenang ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan. Ketika kita menadahkan tangan kita di atas sajadah kita, kenanglah apakah sebelumnya kita membuat orang tua kita murka atau sakit hati? Apakah kita menyakiti pasangan kita, saudara kita, sahabat kita, tetangga kita, atau pegawai kita? Apakah kita tidak mau meminta maaf dan tidak mau memaafkan? Apakah kita menyimpan dendam dan memelihara permusuhan? Dalam taman kehidupan, apakah kita menjadikan diri kita seperti rumpun berduri yang tumbuh di tengah jalan. Semua orang yang lewat pasti terluka karena duri-duri kita yang tajam. Bila kita menjawab ya, kita keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Tanyalah dirimu! Ketika lidah kita membacakan ayat-ayat suci, ingatlah apakah lidah yang sama telah menghamun maki orang lain hanya karena fahamnya berbeda dengan kita, atau karena pendapatnya tidak kita setujui, atau karena kelakuannya tidak seperti yang kita inginkan? Apakah lidah kita telah menjadi ular yang menyemburkan bisa kepada semua orang. Bisa fitnah yang menjatuhkan kehormatan orang. Bisa namimah yang mengadu domba orang-orang yang saling mencinta. Bisa membongkar aib yang mempermalukan orang. Hitung berapa banyak hamba Allah yang merintih pilu, menderita karena bisa-bisa menyengat yang keluar dari mulut kita. 

Sambil memegang tirai Ka’bah, Nabi saw mengagumi rumah Tuhan: Betapa agungnya kamu. Betapa besarnya kamu. Tapi, demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya, jika ada orang yang meruntuhkan kamu, wahai Ka’bah, bata demi bata, kemudian menghancurkannya dan membakarnya, dosanya jauh lebih rendah daripada orang yang meruntuhkan kehormatan kaum mukmin.” (Dengan redaksi yang lebih singkat, hadis ini diriwayatkan dalam Sunan Ibn Majah 3932; Syu’b al-Iman 6706; Bihar al-Anwar 67:71; Tanbih al-Khawathir 1:52) 

Jika lidah kamu masih juga menghancurkan kehormatan orang, menyebarkan aib, fitnah, dan makian, kamu keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan. 

Marilah kita bermuhasabah! Hari ini adalah hari yang paling layak untuk bermuhasabah! Ketika kita rukuk dan sujud di hadapan Tuhan, ketika kita merebahkan kepala kita di atas sajadah, apakah kepala kita itu di luar tempat salat kita dongakkan untuk menunjukkan kebesaran kita dan merendahkan orang lain? Nabi saw bersabda,
لن يدخل الجنة عبد في قلبه مثقال حبة من خردل من كبر
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu saja!” (Bihar al-Anwar 73:235; Mizan al-Hikmah 8:304)

Orang-orang yang sombong keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Orang-orang yang menyakiti sesama makhluk Tuhan, orang yang menyebarkan kebencian dengan fitnah, hasutan dan makian, orang-orang yang meruntuhkan kehormatan orang lain, orang yang sombong dan merasa diri paling benar dan paling soleh, adalah orang-orang yang memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat.
Allah swt berfirman (Al-Quran, Surat Muhammad saw 22-23):
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
“Bukankah apabila kalian berpaling dari ajaran Al-Quran, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat mereka. Allah butakan dan tulikan mereka”


Khutbah Kedua
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذي هو بالعز مذكور وبالفخر مشهور وعلي الضراء والسراء مشكورو صلى الله علي سيدنا محمد النبي و آله الطاهرين. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمد عبده ورسوله
Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah yang Mahakasih dari perbuatan yang memutuskan silaturahmi. Pada hari Id ini, mari kita bukakan gerbang-gerbang langit, mari kita luaskan pintu-pintu ijabah, dengan menyebarkan kasih sayang ke tengah-tengah manusia. Mintakan maaf kepada semua orang yang pernah kita lukai hatinya: orangtua, pasangan hidup, karib-kerabat, tetangga dan sahabat-sahabat kita. Mintakan maaf dengan tulus, karena maaf mereka adalah kunci untuk mendapatkan ampunan Tuhan; karena maaf mereka adalah wasilah untuk mengembalikan kepada kita pahala amal-amal saleh kita, keberkahan dan keselamatan, kemuliaan dan kebahagiaan.
Bertekadlah, mulai hari ini, demi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, kita hanya akan menyebarkan senyuman Sang Nabi saw, memaafkan orang yang berbuat salah, mengenyangkan orang yang lapar, menyembuhkan orang yang sakit, menghibur orang yang menderita, membantu orang yang kekurangan. Sekali lagi, marilah kita buka pintu-pintu ijabah, tirai-tirai kegaiban, dengan doa yang kita peroleh dari manusia-manusia suci:
اللهم صل وسلم وبارك علي سيدنا وحبيبنا وشفيعنا ومولانا
محمد حبيب إله العالمين وعلي آله الطيبين الطاهرين أجمعين
اللهم إغفر لنا الذنوب التي تهتك العصم
اللهم إغفر لنا الذنوب التي تنزل النقم
اللهم إغفر لنا الذنوب التي تغيير النعم
اللهم إغفر لنا الذنوب التي تحبس الدعاء
اللهم إغفر لنا الذنوب التي تنزل البلاء
اللهم إغفر لنا كل ذنب أذنبناه وكل خطيئة أخطأناها
اللهم إن نتقرب إليك بذكرك ونشتشفع بك إلي نفسك ونسألك
بجودك أن تدنينا من قربك وأن توزعنا شكرك وأن تلهمنا ذكرك
اللهم ارزقنا رحمة الأيتام وإطعام الطعام وإفشاء السلام و صحبة الكرام و صلة الأرحام بطولك يا ملجأ الآملين
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلامٌ علي المرسلين والحمد لله رب العالمين

Sejauh mana cinta kita kepada nabimu

Sejauh Mana Cinta Kita
Itulah sebabnya, bagi yang mengha­rapkan mendapat anugerah besar dapat mimpi dan bertemu Nabi SAW, penting bagi kita untuk merenungi kisah berikut, sebagai muhasabah sejauh mana ke­cintaan kita kepada Rasulullah SAW dan seberapa besar pula tekad dan kesung­guhan kita dalam menjalankan sunnah-sunnah beliau SAW.

Pada suatu ketika seorang murid ber­jalan menuju rumah gurunya. Tam­pak di wajahnya ia sedang mengingin­kan sesuatu. Ketika sampai di rumah sang guru, dia duduk bersimpuh dengan sangat ber­adab di hadapan sang guru, yang tak bergerak sedikit pun. Kemudian dengan wajah dan suara yang berwibawa, bertanyalah sang guru kepada muridnya, “Apakah yang mem­buatmu datang kepadaku di tengah ma­lam begini?”

“Wahai Guru, sudah lama aku ingin melihat nabiku SAW walau hanya lewat mimpi, tetapi keinginanku belum terkabul juga,” jawab sang murid dengan nada sungguh-sungguh.

“Oh… itu rupanya yang kau inginkan. Tunggu sebentar.”

Sang guru mengeluarkan pena, ke­mudian menuliskan sesuatu untuk mu­ridnya. “Ini…, bacalah setiap hari se­banyak seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan nabimu.”

Pulanglah murid membawa catatan dari sang guru, dengan penuh harapan ia akan bertemu dengan Rasulullah SAW. Tetapi setelah beberapa minggu kembalilah murid itu ke rumah gurunya, memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak berpengaruh apa-apa.

Kemudian sang guru memberikan bacaan baru untuk dicobanya lagi. Sayangnya, beberapa minggu sete­lah itu muridnya kembali lagi memberi­tahukan kejadian yang sama. Setelah berdiam beberapa saat, ber­katalah sang guru, “Nanti malam engkau datang ke rumahku, kuundang makan ma­lam.” Sang murid heran. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Ingin bertemu Nabi, tetapi kok diundang makan malam?” Sebagai murid yang taat, ia meme­nuhi undangan makan malam sang guru. Datanglah ia ke rumah gurunya untuk me­nikmati hidangan malamnya.

Tenyata sang guru hanya menghi­dang­kan ikan asin dan segera memerin­tahkan muridnya untuk menghabiskan­nya. “Makan, makanlah semua, dan ja­ngan biarkan tersisa sedikit pun.” Sang murid pun menghabiskan selu­ruh ikan asin yang ada. Setelah itu ia merasa kehausan, ka­rena memang ikan asin membuat orang haus. Tetapi ketika ingin meneguk air yang ada di depan matanya, sang guru mela­rangnya. “Kau tidak boleh meminum air itu hing­ga esok pagi, dan malam ini kau akan tidur di rumahku!” kata sang guru. Dengan penuh keheranan, ia menu­ruti perintah sang guru. Ketika malam semakin larut, sang murid merasa susah tertidur, karena ke­hausan. Ia membolak-balikkan badan­nya, hingga akhirnya tertidur juga karena kelelahan.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu gurunya membawakan satu ember air dingin lalu mengguyurkan ke badannya. Lalu terjagalah ia karena mimpi itu, se­akan-akan benar-benar terjadi pada diri­nya. Kemudian ia mendapati gurunya te­lah berdiri di hadapannya dan berkata, “Apa yang kau impikan?” “Guru, aku tidak bermimpi tentang Nabi SAW. Aku bermimpi, guru mem­bawa air dingin lalu mengguyurkan ke badanku.” Tersenyumlah sang guru karena ja­waban muridnya. Kemudian dengan bi­jaksana ia berkata, “Jika cintamu kepada Rasulullah SAW seperti cintamu kepada air dingin itu, engkau akan bermimpi ber­temu Rasulullah SAW.” Menangislah si murid, ia menyadari bahwa di dalam dirinya belum ada rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Ia masih le­bih mencintai dunia daripada Nabi SAW. Ia menyadari bahwa selama itu ia ma­sih sering meninggalkan sunnah-sun­nahnya, bahkan ia pun merasa masih sering me­nyakiti hati umat Rasulullah SAW.

Sumber : majalah-alkisah.com

Kisah Mengharukan Hati-hati Yang Cintakan Rasulullah saw. - Kisah Kewafatan Rasul Akhir Zaman!!!

Kisah Mengharukan Hati-hati Yang Cintakan Rasulullah saw. - Kisah Kewafatan Rasul Akhir Zaman!!!

Kali ini Pak Lang titipkan kisah sedih ini sebagai mengubat kerinduan kita kepada Baginda saw. Semoga Pak Lang dan para penjenguk blog ini direzekikan perasaan cinta dan rindukan Baginda Nabi yang agung ini. Semoga sampailah masanya dalam hidup ini perasaan itu wujud kerana rasa cinta dan rindukan Baginda saw sahajalah jalan keselamatan seseorang hamba. Tentulah jalannya sukar, perit dan payah kerana nafsu, syaitan dan yahudi sudah sangat menguasai hati selama puluhan tahun. 

Fahamilah bahawa Rasulullah saw itu masih wujud bersama kita. Baginda hadir dalam bentuk ruh menjenguk kita, menjawab selawat yang kita ungkapkan, membalas setiap kerinduan kita kepadanya. Baginda adalah seorang Nabi akhir zaman di mana sejak Baginda hidup sehinggalah ke akhir zaman, Baginda 'bekerja' sepanjang masa demi memastikan Islam yang dipelihara zaman berzaman akan kembali menjadi empayar di akhir zaman. 

Baginda Rasulullah saw mempunyai wakil-wakil serta para pewaris tugas Baginda di kalangan para mujaddid serta kekasih Allah sepanjang zaman. Merekalah yang dipimpin dan dicatur  Baginda saw dengan kaedah ajaib yang tersendiri yang akal tidak mampu menebaknya. Hanya yang mengalaminya sahaja yang tahu betapa luasnya pemerintahan Tuhan dan betapa berperanannya Rasulullah saw terhadap umat Baginda terutama kita di akhir zaman. 

Kepada para penjenguk yang belum mengenali GISB, pesan Pak Lang, carilah mursyid untuk penunjuk jalan kebenaran di dalam hidup anda. Usahakanlah dengan doa dan harapan agar hati anda dipimpin untuk bertemu dengan pemimpin kebenaran. Siapa pun mursyid yang anda temui, jika dia benar, dia akan pasti mampu membawa anda mencintai dan merindui Baginda Nabi saw. 



Pak Lang paparkan kisah kewafatan Baginda saw ini untuk bahan tatapan anak cucu dan para remaja serta kita semua. 


Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan selepas waktu Asar iaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji Wida’. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. 

Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. dan demikian juga apa yang dilarang oleh-Nya. Oleh itu kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”

Setelah malaikat Jibril pergi maka Rasulullah s.a.w. pun mengumpulkan para sahabat baginda, dan menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril. Apabila para sahabat r.a. mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: “Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”

Apabila Abu Bakar As-Siddiq r.a. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya. Saiyidina Abu Bakar r.a. pulang ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Beliau. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah  Abu Bakar r.a. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain. Maka berkumpullah para sahabat r.a. di depan rumah Abu Bakar r.a. dan bertanya: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempurna.”

Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat r.a. maka 
Abu Bakar r.a. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatanlah kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri Rasulullah menjadi janda.” 


Setelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar r.a. maka sedarlah mereka akan kebenaran kata-kata  Abu Bakar r.a., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang kejadian yang mereka saksikan itu.

Berkata salah seorang dari para sahabat r.a., “Ya Rasulullah, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar dan kami dapati ramai orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Sebaik 
 Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar r.a., Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.” Kemudian Ali r.a. berkata, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.”

Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat”.

Sebaik sahaja Abu Bakar r.a. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pengsan, sementara Ali r.a. pula mengeletar seluruh tubuhnya, para sahabat yang lain pula menangis sekuat yang mereka mampu. Sehinggakan gunung-ganang, semua malaikat yang ada di langit, cacing-cacing, semua binatang baik yang ada di darat maupun yang ada di laut semua menangis. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersalam dengan para sahabat r.a. satu demi satu dan berwasiat pada mereka.

Pada satu hari, Baginda s.a.w. menyuruh Bilal r.a. azan untuk mengerjakan solat. Para Muhajirin dan Ansar pun berkumpullah di masjid Rasulullah s.a.w. Kemudian Rasulullah s.a.w. menunaikan solah dua rakaat bersama semua yang hadir. Setelah selesai solat, baginda s.a.w. bangun dan naik ke atas mimbar dan berkata: “Alhamdulillah, wahai para muslimin. Sesungguhnya aku adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak orang ke jalan Allah dengan izin-Nya. Dan aku ini adalah sebagai saudara kandung kamu, yang kasih sayang pada kamu semua seperti seorang ayah. Oleh itu, kalau ada sesiapa ada hak untuk menuntut, maka hendaklah ia bangun dan membalasi aku sebelum aku dituntut di hari Qiamat.”

Rasulullah s.a.w. berkata sebanyak tiga kali, lalu bangunlah seorang lelaki bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata: “Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah, kalau kamu tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu aku tidak mahu mengemukakan ini.”

Lalu ‘Ukasyah r.a. berkata lagi: “Sesungguhnya dalam perang Badar aku bersamamu ya Rasulullah. Pada masa itu aku mengikuti unta kamu dari belakang. Setelah dekat, akupun turun menghampiri kamu dengan tujuan supaya aku dapat mencium paha kamu, tetapi kamu telah mengambil tongkat dan memukul unta kamu untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu akupun kamu pukul pada tulang rusukku. Aku hendak tanya samada kamu sengaja memukul aku atau hendak memukul unta tersebut.”

Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal r.a., “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal r.a. keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah r.a. sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah s.a.w. telah menyediakan dirinya untuk dibalas (di qishash).”

Setelah Bilal r.a. sampai di rumah Fatimah r.a. maka Bilal r.a. pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah r.a. menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu?.” Bilal r.a. menjawab: “Aku Bilal, aku telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengambil tongkat Baginda. “Kemudian Fatimah r.a. berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.” 


Berkata Bilal r.a.: “Wahai Fatimah, Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk diqishash.” Bertanya Fatimah r.a. lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah?” Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a. Setelah Fatimah r.a. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal r.a. pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal r.a. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah r.a.

Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. tampil ke depan sambil berkata: “Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah tetapi kamu qishashlah kami berdua.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. maka dengan segera beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah S.W.T. telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.” Kemudian Ali r.a. bangun, lalu berkata, “Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang sentiasa berada di samping Rasulullah oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah”. 


Lalu Rasulullah s.a.w. berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah S.W.T. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu Hasan r.a. dan Husin r.a. bangun dengan berkata: “Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahawa kami ini adalah cucu Rasulullah, kamu qishashlah kami sama jika kamu ingin menqishash Rasulullah” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah s.a.w. “Wahai ‘Ukasyah pukullah aku kalau kamu hendak memukul.”

Kemudian ‘Ukasyah r.a. berkata: “Ya Rasulullah, anda telah memukul aku sewaktu aku tidak memakai baju.” Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju. Setelah Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah r.a. melihat tubuh Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata, “Aku tebus kamu dengan jiwa ku ya Rasulullah, siapakah yang sanggup memukul kamu. Aku melakukan begini adalah sebab aku ingin menyentuh badan kamu yang dimuliakan oleh Allah S.W.T. dengan badan ku. Dan Allah S.W.T. menjaga aku dari neraka dengan kehormatanmu” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.” 


Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah di dalam syurga.”

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Ketika ajal Rasulullah s.a.w. sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah r.a. Kemudian baginda s.a.w. memandang kami sambil berlinangan air mata dan bersabda: “Marhaban bikum, semoga Allah S.W.T. memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah S.W.T. menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah S.W.T. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah S.W.T.”

Allah S.W.T. berfirman: “Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal kamu ya Rasulullah? Baginda s.a.w. menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah S.W.T., ke Sidratul Muntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arasy.”

Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan kamu ya Rasulullah? Rasulullah s.a.w. menjawab: “Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih.”

Kami bertanya: “Siapakah yang akan mensolatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah s.a.w. pun turut menangis. Kemudian baginda s.a.w. bersabda: “Tenanglah, semoga Allah S.W.T. mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. 


Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Izrail berserta bala tenteranya. Kemudian masuklah kamu dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.”

Setelah itu para sahabat r.a. menangis dengan nada yang keras dan berkata, “Ya Rasulullah kamu adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila kamu sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?” 


Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. pun bermula. Dalam bulan Safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat r.a. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal r.a. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal r.a. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w. kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” 


Kemudian ia berkata lagi “Assolah yarhamukallah.” Lalu dijawab oleh Fatimah r.a., “Rasulullah masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal r.a. mendengar penjelasan dari Fatimah r.a. maka Bilal r.a. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah r.a. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal r.a. pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal r.a. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w. berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal r.a. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: “Aduh musibah. Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?”

Setelah Bilal r.a. sampai di masjid maka Bilal r.a. pun memberitahu Abu Bakar r.a. tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. pesankan kepadanya. Ketika Abu Bakar r.a. melihat ke tempat Rasulullah s.a.w. yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pengsan. 


Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat r.a. dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fatimah r.a.; “Wahai Fatimah apakah yang telah berlaku?.” Siti Fatimah r.a. menjawab: “Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana Rasulullah tidak ada bersama mereka.” Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali r.a. dan Fadhl bin Abas r.a., lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka Rasulullah s.a.w. pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. melihat kepada orang ramai dan berkhutbah: “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah S.W.T., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah S.W.T. dan mengerjakan segala perintahnya. 


Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Dengan suara terbatas Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al Quran dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” 

Pesanan ringkas itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah s.a.w. yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar r.a. menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar r.a. dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman r.a. menghela nafas panjang dan Ali r.a. menundukkan kepalanya dalam-dalam. 

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah s.a.w. akan meninggalkan kita semua.” Keluh hati semua sahabat r.a. kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat. Tatkala Ali r.a. dan Fadhal r.a. dengan cergas menangkap Rasulullah s.a.w. yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar, kalau mampu, seluruh sahabat r.a. yang hadir pasti akan menahan detik-detik dari terus berlalu.

Setelah itu Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah baginda. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah s.a.w. masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah s.a.w. sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Kemudian Allah S.W.T. mewahyukan kepada malaikat lzrail, “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaKu.”

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah S.W.T. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai seorang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam, “Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Fatimah r.a. tidak mengizinkannya masuk, “Wahai Abdullah (Hamba Allah), maaflah, ayahku sedang sakit,” kata Fatimah r.a. yang membalikkan badan dan menutup pintu. 


Kemudian Fatimah r.a. kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata. Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengari oleh Rasulullah s.a.w. Baginda s.a.w. bertanya pada Fatimah r.a., “Siapakah itu wahai anakku?”

Fatimah r.a. menjawab: “Seorang lelaki memanggil ayahanda, saya katakan kepadanya yang ayahanda dalam keadaan sakit. Ia memanggil dengan suara yang menggetarkan sukma.” Rasulullah s.a.w. lantas berkata; “Wahai Fatimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.” Jawab Fatimah r.a., “Tidak ayahanda.”

“Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat, yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.” Fatimah r.a. tidak dapat menahan air matanya lagi. Setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan bermula, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Fatimah r.a. maka Baginda SAWpun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai Fatimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan daku.”

Kemudian Rasulullah s.a.w. pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamuaalaikum ya Rasulullah.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat lzrail: “Kedatangan aku adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau dikau izinkan, kalau dikau tidak izinkan maka aku akan kembali.” 


Rasulullah s.a.w. bertanya: “Wahai Malaikulmaut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Aku tinggalkan ia di langit dunia?” Jawab malaikat Izrail. Baru sahaja malaikat Izrail selesai bicara, tiba-tiba malaikat Jibril datang dan duduk di samping Rasulullah s.a.w. Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat?” Jibril menjawab: “Ya, wahai kekasih Allah.”

Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku di sisi Allah S.W.T.” Berkata malaikat Jibril, “Sesungguhnya semua pintu langit telah di buka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu di langit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.” Berkata Rasulullah s.a.w.: “Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.”

Berkata Jibril: “Allah S.W.T. telah berfirman yang bermaksud, Sesungguhnya Aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum dikau masuk terlebih dahulu, dan Aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga.” Berkata Rasulullah s.a.w.: “Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.”

Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.” Setelah itu malaikat lzrail pun memulai tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah s.a.w. ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah s.a.w. bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Apabila ruh baginda s.a.w. sampai ke pusat, dengan perlahan Rasulullah s.a.w. menyebut “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” 


Saiyidatina Fatimah r.a. terpejam, Saiyidina Ali r.a. yang di sampingnya menunduk semakin mendalam dan Jibril mengalihkan pandangannya dari Rasulullah s.a.w. Melihatkan telatah Jibril itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril berkata: “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?”

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah s.a.w. merintih kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sungguh maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, janganlah pada umatku.” Badan Rasulullah s.a.w. mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, 
Saiyidina Ali r.a. segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” 


Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat r.a. saling berpelukan.Saiyidatina Fatimah r.a. menutupkan tangan di wajahnya, dan Saiyidina Ali r.a. kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah s.a.w. yang mulai kebiruan. Ali r.a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan aku meletakkan telinga, aku dengan Rasulullah berkata: “Umatku, umatku.” Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w. wafat pada hari Isnin 13 Rabiul Awal.

Berkata Anas r.a.: “Ketika aku lalu di depan pintu Aishah, ku dengar dia sedang menangis sambil mengatakan: “Wahai orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang yang keluar dari dunia dari perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar daripada singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa’iir”

Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahawa: “Malaikat Jibril telah berkata kepadaku; “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah S.W.T. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.” 


KEUTAMAAN SELAWAT 

Firman Allah:
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya selawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya dan ucaplah salam penghormatan kepadanya.”
(Al-Ahzab: Ayat 56)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada ia mencintai anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.”
(Hadith Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Setiap doa adalah terhalang, sehingga berselawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”
(Hadith Riwayat Ad-Dailami)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya seutama-utama manusia (orang terdekat) dengan aku pada hari qiamat adalah mereka yang lebih banyak berselawat kepadaku.”
(Hadith Riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku pada waktu pagi sepuluh kali dan pada waktu petang sepuluh kali, ia akan memperolehi syafaatku pada hari qiamat.”
(Hadith Riwayat Thabarani)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku di sisi kuburku maka aku mendengarnya, barangsiapa berselawat kepadaku dari jauh maka selawat itu diserahkan oleh seorang malaikat yang menyampaikan kepadaku dan ia dicukupi urusan keduniaan dan keakhiratan dan aku sebagai saksi dan pembela baginya.”
(Hadith Riwayat Al-Baihaqi dan Al-Khatib)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali selawat dan Allah menghapus sepuluh kesalahan (dosa) dan mengangkat sepuluh darjat kepadanya.”
(Hadith Riwayat Ahmad, Nasa’i dan Al-Hakim)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku pada hari Jumaat dua ratus selawat, maka diampuni baginya dosa dua ratus tahun.”
(Hadith Riwayat Ad-Dailami)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Dari Ubai bin Ka’ab:
“Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku memperbanyak selawat, maka berapakah aku jadikan untukmu dari selawatku? Nabi bersabda: Apa yang kamu kehendaki. Ia berkata: kataku: “Seperempat.” Sabda Nabi: “Apa yang kamu sukai dan jika kamu tambah maka itu yang lebih baik bagi kamu.” Kataku: “Apakah sepertiga? Sabda Nabi: Apa yang kamu sukai, jika kamu tambah itulah yang lebih baik bagi kamu.” Ia bertanya: “Apakah aku jadikan selawatku buatmu semuanya?” Nabi bersabda: “Jika demikian maka dicukupilah cita-citamu dan diampuni dosamu.”
(Hadith Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bermaksud:
“Barangsiapa yang berselawat kepadaku dari ummatku, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan dan dihapuskan darinya sepuluh dosa.”
(Hadith Riwayat Ibnu Hibban)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Telah datang kepadaku utusan dari Tuhanku ‘Azzawajalla maka dia (Jibril) berkata: Barangsiapa yang mengucapkan selawat kepadaku dari umatmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat baginya sepuluh kebaikan dan menghapuskan darinya sepuluh dosa dan mengangkat Allah baginya sepuluh darjat dan menolak Allah atasnya (membalas) yang seumpamanya.”
(Hadith Riwayat Ahmad)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Berselawatlah kamu kepadaku, kerana selawat itu menjadi zakat (penghening jiwa pembersih dosa) bagimu.”
(Hadith Riwayat Ibnu Murdawaih)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali.”
(Hadith Riwayat Muslim)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku di hari Jumaat seratus kali maka ia datang di hari qiamat dengan cahaya, sekiranya dibahagi antara makhluk semuanya maka cahaya itu akan memenuhinya.”
(Hadith Riwayat Abu Nu’aim)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seratus kali, maka Allah mendatangkan baginya seratus hajat, tujuh puluh untuk akhirat dan tiga puluh untuk di dunianya.”
(Hadith Riwayat Ibnu Najar dari Jabir r.a.)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Barangsiapa berselawat kepadaku dalam sehari seribu kali, maka ia tidak akan mati sehingga ia digembirakan dengan syurga.”
(Hadith Riwayat Abus Syaikh dari Anas r.a.)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Hinalah hidung orang yang ketika disebutkan namaku tidak membaca selawat kepadaku.”
(Hadith Riwayat Tirmidzi)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Orang yang bakhil ialah yang disebut namaku kepadanya lalu ia tidak mahu berselawat kepadaku.”
(Hadith Riwayat Tirmidzi)

Kisah Mengharukan dari Seekor Tikus

 - sebuah kisah yang menceritakan tentang kepedulian terhadap sesama. kisa yang mungin bisa menginspirasikan saudara untuk terus berbaik baik dan selau tampil anggun buat sesama. :)
Kisah Mengharukan dari Seekor Tikus | Wajib Baca
Sepasang suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam,

“Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak,

“Ada perangkap tikus di rumah!….di rumah sekarang ada perangkap tikus!….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak,

“Ada perangkap tikus!”

Sang Ayam berkata,
“Tuan Tikus, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata,

“Aku turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
” Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular.

Sang ular berkata,
“Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya(kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SUATU HARI.. KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA… PIKIRKANLAH SEKALI LAGI....

Minggu, 28 Juli 2013

belajar dari Ikan Sapu-Sapu



Belajar Jadi  Ikan Sapu-sapu
Tiada yang lebih sabar dari ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys), Disimpan di kolam - bahagia, dipindahkan ke baskom -  berterima. Diam di air jernih atau di lumpur, ia tetap bersyukur. Diberi makan pelet -  senang, lupa diberi makan, ia lumat lumut itu. Ketika pompa air mati, disergapnya oksigen langsung dari udara. Bahkan ia bisa hidup di sungai keruh dan dapat hidup damai berdampingan dengan siapa saja, apakah itu koi, red sumatera, belida, arwana, nila  dan karena pemancing/nelayan pun gak minat maka disamping nya pun ia aman.
Namun banyak kaca akuarium berhutang bersih kepadanya. Ia tahu bukan pilihan menu ikan bagi manusia oleh sebab itu ia terima dirinya apa adanya (tapi banyak orang miskin yang memasaknya untuk sekedar bertahan idup atau untuk berjualan somay di Jakarta). Jika nasib membuat tubuhnya berwarna-warna, ia tak jadi jumawa, namun juga ia tak pernah rendah diri di hadapan ikan-ikan lain jika tubuhnya hitam sewarna saja dan kotor plus bau pula.  

Kalu tidak bisa berguan buat orang lain - minimal jangan merepotkan orang lain