PESAN SEORANG IBU
Bahasa Qolbu
- “Dulu, ketika aku menikah, tidak pernah berpikir punya anak seperti
apa, gimana jaganya, biayainya sekolah hingga lulus kuliah nanti… tapi
kujalankan saja…
Ketika
melahirkan dirinya, hampir diriku menyerah, tapi demi melihatnya lahir
ke dunia ini, tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna, aku terus
berjuang, walaupun harus berkorban diri ini demi kehadiran dirinya di
dunia ini…
Dia telah lahir ke dunia ini, pertama kali
melihatnya, ada perasaan bergejolak di diriku, aku terharu dan bangga
sekali bisa membawanya ke dunia ini, aku berjanji, apapun yang terjadi,
gimanapun susahnya hidup ini, anak ini harus kubesarkan dengan kedua
tanganku…
Tidak mudah untuk membesarkan dirinya, dia bandel
sekali ketika kecil, suka bermain lupa waktu, berteman dengan anak-anak
nakal, tidak mau makan, susah disuruh mandi, susah dibujuk tidur waktu
malam hari, kadang dia marah dan bentak padaku, kadang dia mengejekku,
kadang juga dia menghinaku…
Ketika besar, dia merasa diriku
terlalu membatasi dirinya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, dia juga
merasa aku terlalu kolot, ketinggalan jaman, tidak mengerti apa maunya,
tidak setuju terhadap setiap kelakuannya…
Kadang sakit hati
sekali diriku ini, tapi ingat ketika pertama kali menggendongnya, ketika
melahirkannya, semua sakit ini hilang seketika… dia adalah anakku, anak
kesayanganku…
Aku telah berjanji akan membesar dirinya,
apapun yang terjadi, rintangan apapun yang kuhadapi, karena dia anakku…
Harapanku besar kelak dia bisa menjadi anak yang berguna… Aku cinta
padamu, anakku…
Karena kau lah, yang memberikan kekuatan pada
diriku, membuatku mau bekerja keras pagi-siang-sore-malam, tidak takut
akan sakit, derita.. Karena kehadiran dirimu lah membuat diriku ada
artinya, bisa membesarkan dirimu dan mendengarkanmu memanggilku IBU,
sungguh senang rasanya hati ini…
Aku tidak berharap banyak,
hanya suatu saat, ketika dirimu sudah besar, kamu dapat menjadi anak
yang baik, bisa hidup yang enak. Ibu mungkin sudah tua, tidak bisa hidup
lama lagi, badanku ini sekarat, kerutan muka sudah banyak, perjalananku
tidak lama lagi.
Anakku, jika kamu bekerja keras, tidak perlu
sampai memberikan rumah yang bagus, uang yang banyak, semuanya itu
untuk dirimu saja. Ibu hanya berharap kamu mau menyisihkan sedikit
waktumu untuk menemani masa-masa tua ibu, bisa disamping ibu dan ngobrol
dengan ibu, itu sudah lebih dari cukup…
Ibu Bangga denganmu,
nak, mungkin tidak pernah terucap lewat kata, tapi ini ibu rasakan dari
lubuk hati yang dalam… Maafkan jika selama ini ibu pernah marah
denganmu, memukulimu, melarangmu ini itu, semua ini demi kebaikanmu,
nak…
Ibu Cinta padamu… dari dulu, sekarang, dan selamanya…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar